Langsung ke konten utama

Postingan

Apa Kabar Perumahan Rakyat?

“Hanya dengan Rp3 miliar, Anda bisa mendapatkan hunian eksklusif ini. Daftarkan segera diri Anda. Jangan sampai kehabisan." K iranya rangkaian kata persuasif seperti itu sudah tidak asing di telinga massyarakat masa kini. Ya, saban hari tawaran dalam reklame properti tayang di stasiun televisi nasional. Bisa dibayangkan. Mendengar nilai hunian yang di tawarkan, sebagian besar pemirsa pasti berdecak kagum. Namun, ternyata kalimat itu akan terasa ‘wajar’ mengingat sektor penyedia papan itu ternyata masih jadi pilihan investasi yang menarik. Ya, sektor itu menarik, terutama bagi orang kaya atau orang super kaya di negeri ini yang jumlahnya terus bertumbuh dan diprediksi masih akan meningkat, berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi negara ini. Berkaca pada data lembaga konsultan Knight Frank, The Wealth Report 2014 menujukkan rata-rata orang kaya Indonesia menjadikan sektor properti 30% dari portofolio investasinya. Bahkan pada 2013, 50% orang kaya meningkatkan porsi in...

UU Tapera Jadi Solusi Backlog Perumahan?

JAKARTA—Penerapan Undang-Undang Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) dinilai akan menjadi solusi yang paling tepat dan cepat dalam mengatasi kesulitan pemenuhan papan di Indonesia. Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) Aviliani menegaskan pemerintah tetap harus menjadi pengemban tugas utama dalam mengatasi permasalah kelangkaan hunian ( backlog ) yang diperkirakan mencapai 15 juta unit pada  2013 . Untuk itu, jelasnya, solusi bagi pemerintah guna memangkas jumlah masyarakat yang belum memiliki hunian adalah penerapan Tapera yang tengah dalam tahapan penyusunan rancangan UU. “Itu tugas pemerintah. Dan UU Tapera jadi solusi untuk pemerintah,” ungkapnya di sela-sela seminar Kiat Pendanaan KPR Saat Bunga Tinggi digelar oleh PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) dan  Bisnis Indonesia , Rabu (12/2). Dia menyatakan penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI  rate ) guna memperbesar penyerapan kredit pemilikan rumah (KPR) belum menjadi solusi yang efektif m...

Tarif Listrik Terus Genjot Biaya Operasional Ritel

W acana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) pada 2014 kembali mengemuka pada akhir   2013 . Sontak, rencana ini menjadi kabar kurang baik bagi perusahaan yang tengah mencicipi manisnya pengembangan pusat perbelanjaan. Pasalnya, sebelum  2013  rencana penaikan TDL hingga 15%  dinilai sejumlah pihak menjadi ‘kerikil’ di tengah jalan mulus peningkatan sektor ritel di sejumlah daerah. Apalagi bagi mereka yang berdiam di DKI Jakarta, kebijakan tersebut semakin menjadi beban dengan ditetapkannya perubahan upah minimum provinsi (UMP). Waktu berjalan dan PT Perusahaan Listrik Negara pun memberlakukan TDL baru sejak 1 Januari  2013 . Penaikan ini dilaksanakan secara bertahap setiap 3 bulan dan hanya berlaku untuk golongan pelanggan 1300 VA ke atas. Dan benar saja, hingga penghujung  2013 —meskipun permintaan akan ruang ritel tengah melaju kencang—para pengembang dan pengelola pusat perbelanjaan di Jakarta mulai gerah dengan penaikan tersebut. Pasaln...

Pasar Properti Luar Negeri, Jadi Alternatif?

S udah menjadi wacan umum perlambatan pasar real estate di Indonesia akan mendera 2014. Bahkan sedari awal kuartal IV/ 2013 , perlambatan pertumbuhan sudah  mengemuka. Sebut saja pada akhir Juni  2013 , kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) telah mempengaruhi performa bisnis properti. Setelah itu, kondisi perekonomian yang kurang menentu berlanjut diiringi dengan penurunan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Tak sampai di situ, tekanan berlanjut dengan naiknya suku bunga acuan (BI Rate) yang hingga kini bertengger pada posisi 7,25%. Ada lagi Surat Edaran Bank Indonesia No. 15/40/DKMP mengatur penjualan rumah dengan sistem pesan (inden) serta pembatasan uang muka (luan to value) bagi pengajuan kredit pemilikan rumah (KPR) kedua dan seterusnya yang membatasi KPR. Booming properti selama 3 tahun terakhir pun seolah mulai meredup. Lantas bagaimana nasib investor real estate pada tahun baru ini?  Salah satu jawaban yang kiranya bisa diberikan adal...

Sertifikasi Tanah, Biaya Mahal dan Waktu Tak Tentu Masih Jadi Kendala

P ersatuan perusahaan Realestate Indonesia (REI) baru saja mengakhiri musyawarah nasional (Munas) ke-14. Sejumlah agenda penting terkait dengan peningkatan kuantitas dan kualitas sektor real estate di Indonesia pun dicetuskan. Satu di antaranya adalah beban tugas untuk menemukan solusi bagi hambatan administratif di bidang pertanahan yang seringkali dianggap menjadi biang keladi molornya proses serah terima unit properti. Dalam Munas yang berlangsung selama tiga hari di Ibukota Jakarta tersebut, mayoritas dari sekitar 3000 anggota REI mengeluhkan permasalahan tersebut. Dua hal yang menjadi kendala utama, yakni mahalnya biaya dan tidak tentunya jangka waktu pengurusan sertifikat tanah. "Biaya perijinan dan sertifikat tanah kami rasakan masih menjadi beban biaya tinggi tanpa adanya kejelasan biaya dan waktu penyelesaiannya," kata Mantan Ketua Umum DPP REI Setyo Maharso (2010- 2013 ) dalam sambutan pembukaan musyawarah nasional (Munas) REI ke-14 di Jakarta, baru-b...

Eddy Hussy: 3S dan Fokus Pada MBR

M usyawarah Nasional Persatuan Perusahaan Realestate Indonesia (REI) ke-14 telah berlangsung selama tiga hari di Jakarta. Di samping mengevaluasi dan menentukan arah kebijakan asosiasi, perhelatan tersebut juga menjadi ajang penentuan sosok Ketua Umum DPP REI untuk periode  2013 -2016. Memasuki masa puncak Munas, Eddy Hussy akhirnya tampil meraih tampuk kepeminpinan REI dengan perolehan suara mencapai 87 dari 175 suara yang diperebutkan. Perolehan tersebut meninggalakan calon lainnya Teguh Kinarto, Wakil Ketua REI periode 2010- 2013 , yang hanya memeroleh 83 suara. Untuk itu, dalam masa kepemimpinannya ke depan mantan Sekretaris Jenderal DPP REI 2010- 2013  ini pun menawarkan program 3S, yakni ‘Solusi, Sosialisasi, dan Solidaritas’. Dengan tujuan utama untuk mengembangkan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), dia berjanji akan membawa REI ke arah yang labih baik. Berikut ini kutipan wawancara dengan Eddy Hussy setelah terpilih sebagai Ketua Umum...

Ciputra: Pengembang Mesti Siapkan Inovasi Hadapi Perlambatan

P engembang properti ditantang untuk menghadirkan berbagai inovasi dalam menghadapi  pasar properti 2014 yang diprediksi melambat jika dibandingkan periode emasnya dalam tiga tahun terakhir. Pengusaha properti kawakan, dan juga pendiri Grup Ciputra, Ir. Ciputra mengatakan pihaknya tengah mencari inovasi terbaru untuk mengatasi keadaan tersebut. Dia menjelaskan ketika menghadapi krisis ekonomi pada 1997 pihaknya berhasil menemukan model pengembangan inovatif sehingga grup usahanya dapat melewati masa tersebut. Untuk itu, dia mengungkapkan pihaknya akan mencari model pengembangan yang berbeda untuk menghadapi masa krisis saat ini. “Keadaan ini bisa berlangsung 6 bulan, bisa juga hingga 3 tahun. Nah sekarang bagaimana kita menciptakan model baru untuk menghadapi krisis ini, sebab krisis sekarang berbeda dengan krisis yang lalu. Entah memperbanyak ekspansi, menambah  landbank  atau berhemat dulu,” katanya dalam kata sambutan  founders day  Grup Cipu...