Langsung ke konten utama

Postingan

Filsafat, Ilmu Kritis

Filsafat, sebagai metode pemikiran yang bertanya tentang sifat dasar dan hakiki dari realitas, merupakan suatu ‘seni kritik’. Filsafat pada dirinya sendiri mempertanyakan segala sesuatu secara terus menerus. Ia selalu mengusik apa yang ‘mapan’, mempertanyakan segala sesuatu yang kelihatannya sudah jelas. Ia menggali segala sesuatu secara fundamental, untuk menemukan pusat permasalahan yang harus dipecahkannya secara rasional dan bertanggung jawab. Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki hal-hal mendasar dan menyeluruh. Berbeda dengan cabang ilmu lainnya, filsafat mengkaji segala sesuatu secara menyeluruh. Ia terus-menerus mempertanyakan dan berupaya menjawab berbagai macam permasalahan yang tak dapat dijawab oleh cabang ilmu lainnya—dan juga pertanyaan lintas ilmu—secara rasional dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, filsafat tidak dapat tidak bersifat kritis. Kritis di sini dalam artian terus menerus bertanya—secara eksternal mempertanyakan hal-hal di luar dirinya (lingkup il...

Perspektif Baru dalam Pendidikan non-Barat

’ Dalam satu dasawarsa terakhir ini, sebagaimana diungkapkan oleh Setiono Sugiharto dalam artikelnya Understanding Students’ Rhetorical Tradition [1] , ungkapan ‘pendidikan karakter’ menjadi perhatian utama, khususnya dalam dunia pendidikan kita. Kenyataan ini pada dasarnya didorong oleh situasi dunia pendidikan nasional yang dianggap tidak dapat mewujudkan visi pendidikan yang ‘benar’—masalah utamanya mengenai kebiasaan dalam men contek dan meng copy karya orang lain tanpa ijin—bagi para pelajar. Dalam hal ini, ‘pendidikan karakter’ dipercaya sebagai ‘obat mujarab’ bagi para pelajar untuk mulai melihat dan memahami pentingnya membinan ‘kejujuran akademik’. Setiono Sugiharto dalam artikelnya kemudian mengungkapkan ‘pendidikan karakter’, yang juga telah tercantum dalam garis besar kurikulum nasional, tak mungkin menghasilkan hasil-hasil yang manjur bagi upaya peningkatan dunia pendidikan kita—berkaitan dengan hal ihwal ‘kejujuran akademik’—. Dia menyatakan bahwa sekurang-kuragny...

Siapakah Manusia?

--> Filsafat sebagai metode pemikiran yang bertanya tentang sifat dasar dan hakiki dari realitas, mencoba mengupas apa arti manusia dalam bidang yang lebih khusus, yakni Filsafat Manusia. Dalamnya, manusia mencoba untuk memenuhi salah satu dorongan dasarnya, yakni dorongan bertanya khususnya mempertanyakan dirinya sendiri, dengan mendefiniskan siapakah yang disebut manusia itu? Bidang khusus ini dahulu seringkali dikenal dengan istilah “psikologi rasional” atau “psikologi filosofis” sebagai lawan dari “psikologi empiris”. Namun, istilah psikologi kiranya membawa kerancuan pada spesifikasi filsafat ini bilamana orang berpegang pada etimologinya saja, karena hanya akan nampak satu aspek, yaitu jiwanya ( psyche , Yunani). Istilah “Filsafat Manusia “ atau “Antropologi Filosofis” kiranya lebih tepat melukiskan bidang filsafat tentang manusia dalam keutuhannya. Namun, dewasa ini dapat disimpulkan tiga alasan yang sepintas lalu menjadikan Filsafat manusia tidak berguna lagi. Pet...

Menapak Jejak di Puncak Merbabu

“Ayo cuiy, kita jalan lagi! Semangat…! Kita pasti bisa nyampe puncak…! Tampang sangar, brewokan, tubuh kekar, tapi kok manja…!? Ntar malu lho… jauh-jauh dari Jakarta tapi ga bisa muncak…!” Dalam Ekspedisi Merbabu (25-29 Maret 2009), seruan di atas seakan menjadi slogan. Rangkaian kata-kata bernada canda dan mengundang tawa—sekurang-kurangnya senyuman—macam itulah yang menjadi semacam minuman penyegar bagi kami, para Jeladers (sebutan untuk para anggota Jelajah Alam Driyarkara).  Ajakan bermuatan semangat itu mencoba untuk menyegarkan kembali asa kami dalam menggapai puncak. Apalagi ketika beberapa orang di antara kami mulai meragukan diri, yang secara fisik lelah dan dalam kondisi itu secara mental mereka tertekan. Dalam balutan suhu udara pegunungan yang mungkin hanya sisa satu digit angka dan derasnya badai angin, beberapa kawan merasa tidak sanggup untuk melanjutkan pendakian. Jalur pendakian yang cukup menyulitkan dengan kemiringan + 60o, gelapnya malam, dan deru angi...

STF Driyarkara, Memang Beda

S ejauh pengalamanku, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara terasa “beda”. STF Driyarkara sungguh berbeda jika dibandingkan dengan perguruan tinggi lainnya di seantero Jakarta, atau mungkin bahkan setanah air. Paling tidak perbandinganku berdasar pada pengalaman ketika bertandang ke kampus lain, sharing dengan kawan-kawan dari perguruan tinggi lain atau bahkan dari pengamatan acara-acara yang ditayangkan di TV (termasuk dari film, sinetron, dan sejenisnya). Namun, dalam perbedaan itu hadir suatu rasa bangga ketika menyadari kesempatanku untuk mengenyam pendidikan di STF Driyarkara. Atau mungkin bahkan sedikit kesombongan mengendap dalam diri ketika menyandang status mahasiswa dari sekolah tinggi bergensi ini. Mungkin rasaku ini terlalu berlebihan, tapi siapa sih yang tidak bangga menjadi mahasiswa STF Driyarkara. Sekolah Tinggi Filsafat prestisius yang dipenuhi dosen-dosen kaliber nasional dan berakreditasi “terbaik”!!! Menjadi seorang mahasiswa dengan spesifikasi dalam bidang filsa...

Ciri “Non-Kooperasi”, Ke-Indonesia-an Dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Tanpa kita sadari, bangsa kita telah mencapai usia 6 4 tahun kemerdekaannya. Ada begitu banyak kisah yang telah tercatat dalam rentang waktu tersebut. Mulai dari perjuangan untuk mencapai kemerdekaan hingga perjuangan membangun bangsa demi suatu cita-cita yang ‘ mungkin separuhnya ’ sudah dan sedang kita rasakan. Jelaslah bahwa perjuangan yang di mulai dari usaha untuk mencapai kemerdekaan hingga keadaan seperti sekarang ini sangatlah berat. Begitu banyak cara dilakukan demi terwujudnya suatu masyarakat yang merdeka, adil dan makmur. Namun, tidak dapat dielakkan juga bahwa ada begitu banyak hal yang dikorbankan demi cita-cita tersebut. Pada masa sebelum kemerdekaan ada begitu banyak usaha yang dilakukan para pejuang untuk mencapai kemerdekaan. Dari usaha yang bersifat fisik dengan melakukan pemberontakan yang bermodalkan senjata seadanya hingga usaha yang bersifat intelektual dengan propaganda pemikiran dan semangat independensi bangsa indonesia terhadap penjajah, serta ...

Sekularisme: Hubungan Agama dan Negara dalam Perspektif Pancasila

Hubungan negara dan agama telah menjadi suatu perdebatan yang cukup hangat dalam sejarah dan kancah perpolitikan di Indonesia. Wacana hubungan negara dan agama terjadi di kalangan politikus dan tokoh masyarakat. Relasi agama dan negara sebagaimana dialami Indonesia selalu mengalami pasang surut.  Suatu ketika hubungan di antara keduanya berlangsung harmonis, namun di saat yang lain mengalami ketegangan sebagaimana tercermin dari pemberontakan atas nama agama di tahun 1950-1960. Polemik memperlihatkan adanya suatu perbedaan pendapat tentang hubungan negara dan agama di Indonesia.  Perbedaan ini melahirkan ketegangan-ketegangan politik ideologi. Polemik tentang secular state menunjukkan fakta bahwa relasi antar keduanya tidak berdiri sendiri, melainkan juga dipengaruhi persoalan politik, ekonomi, dan budaya dan juga sekaligus memperlihatkan bahwa persoalan hubungan negara dan agama menjadi bidang kajian yang penting atas beberapa alasan. Pertama, hubungan negara dan agama...