Langsung ke konten utama

Postingan

Memandang ‘Yang Lain’

Suatu Pembandingan atas pemikiran Elias Canetti dan Emmanuel Levinas A dalah sebuah kenyataan bahwa Elias Canetti (1905-1994) dan Emmanuel Levinas (1906-1995) adalah dua pemikir yang hidup dalam latar belakang masa yan g sama. Kedua pemikir besar tersebut secara sama mengalami hidup hampir di sepanjang Abad ke-20 dan mengalami berbagai perubahan serta peristiwa di dalamnya. Tak terkecuali dengan dua perang besar; Perang Dunia I dan Perang Dunia II, yang menjadi bagian kuat dari latar belakang kehidupan kedua pemikir tersebut. Mungkin juga secara tidak kebetulan, dari kenyataan latar belakang masa yang begitu penuh ketakutan dan kecemasan, kedua pemikir tersebut membicarakan tema-tema yang terkait dengan perilaku m anusia dalam relasinya dengan sesama. Dalam paper ini kita akan melihat bagaimana individu melihat ‘yang-lain’ ( the other) dengan membandingkan beberapa pokok pemikiran Elias Canetti dan etika Levinas. Kedua pemikir memiliki latar belakang masa yang sama ...

Fantasi dalam Eyes Wide Shut

Ide fantasi memiliki ambiguitas yang mendasar. Menurut Lacan Fantasi adalah layar yang melindungi manusia dari perjumpaan dari the Real , akan tetapi fantasi itu sendiri secara paling me ndasar—apa yang disebut Freud sebagai ‘fantasi fundamental’, yang menyediakan koordinat paling mendasar dari kemampuan subjek untuk berhasrat—tidak pernah dapat disubjektifikasikan dan harus tetap terrepresi agar dapat berfungsi. Film Eyes Wide Shut (1999), karya terakhir sutradara ternama, Stanley Kubrick, yang didasarkan pada novel berjudul Traumnovelle (Dream Story) (1926), menyajikan suatu panggung bagi realita individu dalam fantasi. Kisah film ini berawal dari perdebatan panjang, Dr. William Harford (Tom Cruise) harus mendengarkan pernyataan mengejutkan istrinya, Alice, (Nicole Kidman) yang mengaku bahwa ia pe rnah ber-fantasi tentang sebuah affair dengan seorang pria lain. Pengakuan tersebut tidak hanya mengejutkan William, namun pada akhirnya membuatnya terjebak pada sebuah malam ...

Aku Yang Lain, di Hari Yang Lain

Hari yang menjamahku dengan ketidakjelasannya mampu menciptakan perubahan dalam ku, menyaksikan perubaahan ini aku teringat tentang perubahan yang juga diciptakan oleh hari untuk dirinya. Ia mampu menghadirkan hujan ketika matahari sedang bersinar.  Ah…….sebuah ketidakjelasan.  Apakah aku harus mengikuti perubahan yang telah diciptakan oleh hari ter sebut? Sebuah ketidakpastian untuk aku dan keberadaanku ketika harus mengikutinya. Larik-larik yang telah tersusun pada beberapa kelaluan atau kelampauan hanya menjadi sebuah larik sebab aku belum mampu menjadikannya sebagai salah satu bait dalam rengkuhan kekinian.  Hendak berusaha untuk mengulanginya namun kelampauan tetap menjadi kelampauan.  Dengan ketidakmampuan yang bergerak layaknya kuda pacu sambil menghapus kemurnian dari mimpi maka aku telah menjadikan kekinian sebagai ketidakjelasan, yang juga dihadirkan oleh hari dengan musim-musimnya.  Aku sedang berusaha untuk menyusun larik-larik agar tida...