Langsung ke konten utama

Postingan

Arthur Schopenhauer, Musik Sebagai Seni Tertinggi

Dunia adalah Kehendak dan bayangan (idea atau representasi). Melalui pernyataan itu, Schopenhauer ingin menyatakan bahwa ‘Kehendak’ adalah realitas noumenal sebagai dasar, sedangkan bayangan adalah manifestasinya di dunia fenomenal . Jadi, menurut Schopenhauer realitas pada hakikatnya berupa Kehendak. Dibalik dunia pengalaman kita, yakni dunia empiris, terdapat ‘Kehendak’ tersebut. Yang kita tangkap di dunia fenomena adalah ‘gejalanya’, yakni ide ( Vorstellung ) dari Kehendak transendental itu. Segala gejala alam semesta sebenarnya merupakan ungkapan atau manifestasi ( fenomena ) dari sebuah Kehendak. Dan menurutnya, jika dunia dipandang sebagai Kehendak, maka hidup adalah penderitaan. Hal ini disebabkan oleh Kehendak itu adalah sebuah dorongan buta yang tidak akan pernah mencapai kepuasan dan tujuannya. Oleh karena itu, Estetika yang dikemukakan oleh Schopenhauer merupakan jalan keluar dari penderitaan, walaupun sifatnya hanya sementara. Penderitaan dalam hidup bisa disembuhka...

Francis Fukuyama tentang Akhir Sejarah

F rancis Fukuyama, dalam artikelnya “ The End of History ”—dan kemudian dalam bukunya “ The End of History and the Last Man” — , menyatakan bahwa demokrasi liberal merupakan tujuan akhir dari evolusi ideologi umat manusia dan bentuk final dari pemerintahan manusia. Bentuk-bentuk pemerintahan seperti monarki, fasisme, komunisme dalam kenyataannya memiliki banyak cacat dan kontradiksi internal, sedangkan demokrasi liberal—walaupun ketidakadilan masih ada, tetapi hal itu merupakan implementasi yang belum penuh dari prinsip “liberty” dan “equality”—bebas dari itu semua. Francis Fukuyama dengan begitu menegaskan bahwa demokrasi liberal, sebagai sistem pemerintahan yang telah memperoleh legitimasi yang kuat di seluruh dunia, merupakan “the end of history”. Unsur-unsur Filsafat Hegel pada Fukuyama Fukuyama sama seperti Hegel dan Marx, melihat sejarah sebagai proses evolusioner yang satu dan koheren. Hegel dan Marx berpendapat bahwa proses evolusioner akan berakhir ketika bangsa...

Tentang Sejarah ~ Hegel

H egel, dalam bukunya “ Lectures on the Philosophy of World History” , berusaha menggambarkan perkembangan sejarah secara komprehensif dan berusaha untuk mendamaikan pikiran dengan realitas. Pada akhirnya realitas dan pikiran adalah identik, dimana tidak ada perbedaan antara pikiran atau idea dengan kenyataan. Yang “aktual” adalah yang “rasional” dan yang “rasional” adalah “yang aktual”. Rekonsiliasi pikiran dan realita tercapai dengan perkembangan idea atau pikiran itu sendiri. Seluruh kenyataan merupakan proses yang berjalan menurut hukum dialektik. Hegel dipengaruhi pikiran Neo-Platonisme yang melihat bahwa pada awal mula seluruh kenyataan ini berasal dari The One (“yang satu”). Yang satu ber-emanasi atau mengalirkan diri ke dalam kenyataan yang majemuk, yang pada akhirnya kembali diserap ke dalam “yang satu”. Filsafat Kant juga sangat berpengaruh pada Hegel. “Idealisme” Hegel dapat dikatakan sebagai radikalisasi idealisme transendental Kant. Bila dunia yang kita...

Akhir Dekade I

[03.20-28/12/10] Masih dalam sebuah pertanyaan... di penghujung sajian kopinya... ibu warung pun menyela awang yang biasa: "Mas... apakah masih pantas memikirkan waktu depan, padahal mas tidak mempunyai kemewahan untuk memeluk suatu idealisme?" ...bingung pun lalu..."tp setidaknya sudah akan ada 'hati' seblum fajar tegakkan kepala!?" ...itu terjawab entah dimana... ‎[01.40-29/12/10] Masih tetap malam... dengan pijaran lampu menanti fajar baru... ibu warung dalam tatap tanya menanti... dan pada asap puntung terakhir terhembus... jawaban: "untuk menjadi berbeda, aku ada di sini'...!" ...Tapi sementara...senyap tak lenyap... ...detik mengetuk akhir... [04.30-30/12/10] Gema surau menyambut subuh... detik semakin mengetuk akhir... dan persis dugaan Ibu warung mungkin benar: "maaf Mas...mungkin mas terlalu banyak menjilat kata dan kalimat dari mulut orang-orang!" ...kemudian masih senyap dan mungkin tak ak...

Politik: Penaklukan, Kebebasan atau Pemberdayaan?

S epanjang sejarah filsafat politik, terdapat tiga macam alur (konsep) besar dalam politik. Konsep-konsep itu secara menyeluruh mencoba membangun suatu pemahaman tentang hakikat kebebasan dalam kehidupan bersama, prosedur-prosedur kehidupan dalam masyarakat majemuk dan cara-cara mengupayakan suatu perubahan dalam masyarakat politis. Atau dengan kata lain; konsep-konsep itu berupaya menyingkap arti politik dari setiap sudutnya. Dalam penyingkapan tersebut, setiap konsep secara keseluruhan selalu menunjukkan korelasi antara ‘anggapan tentang pengikut’ (gambaran manusia/antropologi) dan ‘tindakan kepemimpinan' (politik)—termasuk model-model relasi politis—. Jika hendak mengubah taktik politik tertentu, pertama-tama kita harus mengubah anggapan-anggapan kita tentang para pengikut. Model atau bentuk korelasi ‘dua pihak’ dalam kehidupan politis itu merupakan konseptualisasi dari gambaran politik yang lazim dalam masyarakat. Untuk lebih jelasnya...