“Dahulu kala ada cerita, ketika lelaki melawati pelangi, ia menjadi perempuan. Dan, ketika perempuan berjalan di bawah pelangi, ia menjadi lelaki,” dongeng nenek si bocah perempuan di setiap malam. Dibuka dengan kutipan pidato Nelson Mandela “I cannot forget, but I can forgive”—sebuah ungkapan dengan arti manis sekaligus sangat applikatif untuk memulai era baru di Afganistan—, OSAMA mengangkat kisah yang menggelitik kesadaran sekaligus memilukan. Aneh tapi nyata. Film pertama yang dibuat di Afganistan setelah kejatuhan rezim Taliban itu mepertontokan hegemoni tangan besi penguasa telah merenggut hak-hak perempuan. Tersirat pesan bahwa siapapun yang terlahir sebagai perempuan pada lingkungan itu adalah sebuah kutukan. OSAMA mengangkat kisah nyata tentang kemalangan dan drama seorang gadis muda tak bernama berusia 12 tahun. Dia terpaksa menyamar sebagai anak lelaki untuk menyambung hidupnya dan keluarganya. Pasalnya, tempat untuk semua perempuan pada rezim Taliban adalah di dalam rumah. ...
ide yang berpendar dari masa subur