Jumat, 21 Januari 2011

AGAMA: CANDU RAKYAT Kritik Karl Marx terhadap Agama


Marx mengatakan bahwa agama adalah candu rakyat. Artinya agama menjadi tempat pelarian manusia dari kondisi dunia nyata. Keadaan konkrit yang tidak beres membuat manusia menderita dan mencari obat penenang dalam kehidupan keagamaan.

Riwayat Hidup Karl Marx

Karl Marx dilahirkan di kota Trier, perbatasan barat Jerman (pada waktu itu termasuk wilayah Prussia), pada tahun 1818. Ia adalah seorang keturunan Yahudi. Ayahnya seorang pengacara yang beberapa tahun setelah kelahiran Marx berpindah agama ke agama Kristen Protestan (padahal Kota Trier mayoritas KatolikKemungkinan agar ia dapat menjadi pegawai negeri [notaris] di Prussia yang berhaluan Protestan).[1] Sesudah lulus dari gymnasium di Trier, ayahnyadengan harapan agar anaknya dapat mengikuti karier sang ayahmenyuruh Karl studi hukum di Universitas Bonn[2]. Namun, Marx sendiri lebih tertarik menjadi penyair. Dan pada akhirnya, tanpa menunggu izin ayahnya, Karl pindah ke Berlin dan mulai belajar Filsafat.

Di Berlin, ‘filsafat’ sama artinya dengan filsafat Hegel yang baru beberapa tahun sebelumnya meninggal.[3] Marx muda yang gusar dengan situasi di Prussia menemukan kelompok yang menggeluti filsafat Hegel dan menjadikannya sebagai senjata intelektual yang kritis dan radikal; kelopok ini bernama Doktorclub. Kelompok itu, yang tak lain merupakan ‘kaum Hegelian-Muda, memakai filsafat Hegel sebagai alat kritik untuk mengkritik kekolotan negara Prussia. Dengan penekanan pada rasionalitas dan kebebasan, filsafat Hegel tampak sebagai sarana yang sangat cocok untuk mengritik sistem-sistem politik negara Prussia yang otoriter. Hegel diartikan sebagai guru revolusi.[4] Namun tidak berlangsung lama, karena kemudian Marx merasa tidak puas dengan terhadap kecenderungan teoritis dari kelompok ini.[5]

Marx melanjutkan Studinya di Universitas Jena dan meraih gelar doktornya [1841], dalam usia dua puluh tiga tahun, dengan sebuah Disertasi berjudul “Perbedaan Filsafat alam Demokritos dan Epikuros”[6]. Setelah lulus promosi, Marx pindah ke Koln dan menjadi pemimpin redaksi harian Die Rheinische Zitung, sebuah Koran liberal-progresif. Karena mendapat kesulitan terus-menerus dari sensor pemerintah Prussia, Marx terpaksa melepaskan jabatannya pada tahun 1843 (namun korannya tetap dilarang) dan pindah ke Paris. Ia menikah dengan Jenny von Westphalen, putrid seorang bangsawan. Dalam tahun itu Marx mulai menulis sebuah Critique Hegel’s Philosophy of Right (yang baru dipublikasikan abad ini) serta dua karangan yang dimuat dalam sebuah majalah, yaitu Critique of Hegel’s Philosophy of Right. Introduction dan On the Jewish Question. Tiga tulisan penting itu memperlihatkan sebuah perkembangan baru dari disertasinya. Ia telah membaca karya utama Ludwig Feurbach The Essence of Christianity.

Kemudian Marx pindah ke Paris. Di situ ia bertemu dengan tokoh-tokoh sosialis, baik di Prancis, seperti Proudhon, maupun pelarian dari Jerman. Ia juga bertemu dengan Friedrich Engels yang akan menjadi teman karibnya selama hidupnya. Di paris Marx berhadapan untuk pertama kalinya dengan kaum buruh industri. Di Paris Marx menjadi seorang sosialis, artinya ia pun menerima anggapan dasar sosialisme, bahwa sumber segala masalah sosial terletak pada lembaga hak milik pribadi.

Ada tiga tulisan penting yang dihasilkan oleh Marx dalam periode ini. Yang pertama adalah Philosophical and Economic Manuscripts, pada tahun 1844, atau yang juga dikenal dengan Naskah-naskah Paris. [7] Tulisan kedua adalah buku pertama Marx (yang sebagian juga ditulis oleh Engels) yang terbit dengan judul The Holy Family.[8] Dan yang ketiga, pada tahun 1846, Marx bersama Engels menulis buku tebal The German Ideologi.[9]

Pada permulaan tahun 1845 Marx terpaksa harus meninggalkan Paris dan pindah ke Brussel karena ia diusir oleh pemerintah Prancis atas permintaan pemerintah Prussia. Tiga tahun kemudian, pada awal revolusi yang menyapu Eropa selama tahun 1848, Marx dengan keluarganya diusir juga dari Belgia dan pindah ke London di mana ia tinggal sampai akhir hidupnya. Di Brussel Marx dan Engels masih sempat menulis tulisan mereka yang paling terkenal Manifesto Komunis. Selama revolusi 1948 Marx kembali ke Jerman dan mendirikan sebuah harian. Tetapi akhirnya revolusi gagal dan Marx harus kembali ke London.

Dengan perpindahannya ke kota London mulailah tahap baru dalam hidup Marx. Ia meninggalkan aksi-aksi konspiratif dan revolusioner dan memusatkan perhatiannya pada pekerjaan teoritis. Ia semakin menyadari dirinya sebagai pemikir dan penemu hukum-hukum yang menentukan perkembangan masyarakat.

Sejak dari Paris Marx semakin memperhatikan ilmu ekonomi. Dalam pelbagai tulisannya, Marx memaparkan pokok-pokok pandangan materialis sejarah. Inti pandangan materialis sejarah adalah bahwa perkemabangan masyarakat ditentukan oleh perkembangan dalam bidang ekonomi. Ia mengklaim dapat memastikan bahwa kapitalisme mengandung benih-benih keruntuhan dalam dirinya sendiri dan bahwa keruntuhan kapitalisme niscaya akan menghasilkan masyarakat sosialis. Maka untuk membuktikan tesisnya, Marx menenggelamkan diri dalam studi ilmu ekonomi. Ia harus membuktikan secara ilmiah bahwa ekonomi kapitalis memuat kontradiksi-kontradiksi yang niscaya akan meruntuhkannya.[10]

Akhirnya, pada tahun 1867, terbitlah buku pertama dari karya utama Marx yang dimaksudkan untuk membuktikan kebenaran ramalannya tentang kehancuran kapitalisme dan keniscayaan sosialisme: Das Kapital, yang buku kedua dan ketiganya baru diterbitkan oleh Engels setelah Marx meninggal dunia—beberapa buku catatan pinggir Marx diterbitkan oleh Karl Kautsky sejak permulaan abad ini dengan judul Teori-teori tentang Nilai Lebih—. Buku Das Kapital ternyata mengecewakan banyak teman Marx, karena dianggap terlalu kering dan tidak jelas maksudnya. Namun, Marx semakin dikenal di kalangan para pemimpin gerakan buruh di benua Eropa. Ia sering dikunjungi untuk dimintai nasihat.

Walaupun kehidupan berkeluarga dengan istrinya cukup bahagia, Karl Marx dalam kehidupan pribadinya terus-menerus didera kemelaratan. Marx tidak memiliki sumber pendapatan yang tetap dan kurang tahu mengatur keuangannya. Tapi, Ia banyak mendapat kiriman bantuan dari Engels (yang memiliki sebuah pabrik tekstil di Manchester). Sejak tahun 1860-an Engels mampu menyediakan kiriman uang bulanan tetap bagi Marx sehingga 20 tahun terakhir keluarga Marx relatif bebas dari kesulitan ekonomis.

Marx cenderung bersikap otoriter dan sering menyinggung perasaan orang lain, terutama rekan-rekan sosialisnya. Apalagi bagi siapa yang tidak tunduk pada kepemimpinan teoretisnya; pasti akan diserang dengan gaya menghina, termasuk penjelekan nama pribadi mereka. Karena itu, hubungannya dengan hampir semua teman seperjuangan lama-kelamaan ambruk. Hanya persahabatannya dengan Engels yang tetap bertahan. Tahun-tahun terakhir hidupnya sepi. Marx memiliki tujuh anak. Empat diantaranya mati karena kecelakaan. Sisanya adalah tiga orang putrid—Laura, Eleanor dan Jenny—yang mampu membaca teks-teks ayahnya. Waktu ia meninggal pada tahun 1883, hanya delapan orang yang berdiri di sisi makamnya.

Perkembangan Pemikiran Karl Marx

Semua ahli sepakat bahwa pemikiran Marx mengalami perkembangan. Marx membutuhkan beberapa tahun sampai mencapai pengertiannya yang khas. Adanya perkembangan juga jelas mengandaikan adanya perubahan dalam pemikiran Karl Marx. Dan menurut Jean-Yves Calves SJ., dalam La pensee de Karl Marx, perkembangan pemikiran Marx (perubahan) berjalan dalam kesinambungan.[11]

Garis Besar perkembangan pemikiran Marx[12] (periode Marx muda meliputi tahap I-III dan periode Marx tua meliputi tahap IV-V; dengan garis pemisah ‘paham sosialisme ilmiah’ yang terungkap dalam paham materialism sejarah:

a) Konteks Dasar yang menentukan arah perkembangan Karl Marx sesudah menyelesaikan sekolah Gymnasium adalah ‘situasi politik represif di Prussia’ yang telah menghapus kembali hampir semua kebebasan yang diperjuangkan oleh rakyat dalam perang melawan Napoleon.

b) Ia masuk Universitas Berlin dan segera terpesona oleh terpesona oleh filsafat Hegel. Dari Hegel ia kemudian mencari jawaban atas pertanyaan yang menggerakkanya; ‘ penindasan sistem politik reaksioner?’ [Tahap I]

c) Pemikiran Karl Marx semakin berkembang setelah berkenalan dengan filsafat Feurbach. Sekarang Marx mengartikan ciri reaksioner negara Prusia sebagai ungkapan sebuah keterasingan manusia dari dirinya sendiri. [Tahap II]

d) Yang menjadi pertanyaan Marx sekarang adalah di mana ia harus mencari sumber keterasingan itu. Jawabannya ditemukan sesudah bertemu dengan kaum sosialis radikal di Prancis. Di Paris, Marx menjadi yakin bahwa keterasingan paling dasar berlangsung dalam proses pekerjaan manusia. Sebenaranya pekerjaan adalah kegiatan dimana manusia justru menemukan identitasnya. Tetapi sistem hak milik pribadi kapitalis menjungkirbalikkan makna pekerjaan menjadi sarana eksploitasi. Melalui pekerjaan manusia tidak menemukan melainkan mengasingkan diri. Hal itu demikian karena sistem hak milik pribadi membagi masyarakat ke dalam para pemilik yang berkuasa dan para pekerja yang tereksploitasi. Manusia hanya dapat dibebaskan apabila hak milik pribadi atas alat-alat produksi dihapus melalui revolusi kaum buruh. Dengan demikian Marx mencapai posisi klasik sosialisme. [Tahap III]

e) Karena itu Marx semakin memusatkan perhatiannya pada syarat-syarat penghapusan hak milik pribadi. Ia mengklaim bahwa sosialismenya adalah sosialisme ilmiah yang tidak hanya didorong oleh cita-cita moral, melainkan berdasarkan pengetahuan ilmiah tentang hukum-hukum perkembangan masyarakat, dengan demikian pendekatan Marx berubah dari yang bersifat murni filosofis menjadi semakin sosiologis. Sosialisme ilmiah itu disebut Marx sebagai ‘paham sejarah yang materialistik’: sejarah dimengerti sebagai dialektika antara perkembangan bidang ekonomi di satu pihak dan struktur kelas-kelas social di pihak lain. Marx sampai pada pendapat yang akan menjadi dasar ajarannya, bahwa faktor yang menentukan sejarah bukanlah politik atau ideologi, melainkan ekonomi. Perkembangan dalam cara produksi lama-kelamaan akan membuat struktur-struktur hak milik lama menjadi hambatan kemajua. Dalam situasi ini akan timbul revolusi sosial yang melahirkan bentuk masyarakat yang lebih tinggi. [Tahap IV]

f) Sekarang pertanyaannya, apakah akan pernah lahir masyarakat di mana hak milik pribadi sama sekali terhapus? Jadi apakah komunisme, masyarakat tanpa hak milik pribadi dan tanpa kelas-kelas sosial itu, akan pernah terwujud? Karena faktor yang menentukan perkembangan masyarakat adalah bidang ekonomi, pertanyaan itu harus dijawab melalui suatu analisis dinamika ekonomi tertinggi yang sudah dihasilkan oleh sejarah, kapitalisme. Itulah sebabnya Marx makin lama makin memusatkan studinya pada ilmu ekonomi, khusunya ekonomi kapitalistik. Studi itu membawa Marx pada kesimpulan bahwa ekonomi kapitalisme niscaya akan menuju kepada kehancurannya sendiri. Karena kapitalisme seluruhnya terarah kepada keuntungan pemilik sebesar-besarnya, kapitalisme menghasilkan penghisapan manusia pekerja dan, karena itu, pertentangan kelas paling tajam. Karena itu produksi kapitalistik semakin tidak terjual karena semakin tak terbeli oleh massa buruh yang sebenarnya membutuhkannya. Kontradiksi internal sistem produksi kapitalis itulah yang akhirnya niscaya akan melahirkan revolusi kelas buruh yang akan menghapus hak milik pribadi atas alat-alat produksi dan mewujudkan masyarakat sosialis tanpa kelas. [Tahap V]

Pengaruh Hegel (Hegelian Kiri) dan Ketidakpuasan Marx terhadap Hegel

Marx sebenarnya adalah seorang ahli waris filsafat Hegel, tetapi dia adalah seorang ahli waris yang kritis. Sudah di singgung bahwa dia pernah tergabung dalam kelompok Hegelian Sayap Kiri di Berlin. Ia amat terkesan oleh Hegel, tetapi juga terganggu oleh sebuah inconsistency: dimana masyarakat yang nyata, masyarakat Prussia, berkebalikan dengan masyarakat rasional dan bebas seperti yang dipikirkan oleh Hegel. Marx dan teman-temannya pada akhirnya mulai menyadari bahwa Hegel hanya merumuskan pikiran, dan yang diperlukan adalah agar pikiran itu menjadi kenyataan. Teori harus menjadi praktis. Pemikiran harus menjadi unsur pendorong perubahan sosial. Kelihatan bahwa dua ketetapan dalam pemikiran Marx, yang pada saat itu baru mulai menggeluti filsafat, di kemudian hari sudah berkembang: yang dicita-citakannya adalah kemerdekaan dapat diwujudkan secara nyata, filsafat harus menjadi kekuatan praktis-revolusioner.

Ada beberapa warisan Hegelian dalam filsafat Marx. Pertama, Marx memakai metode dialektis Hegel untuk menjelaskan sejarah dan proses-proses kemasyarakatan. Kedua, Marx juga menganut asumsi-asumsi filsafat sejarah Hegel, bahwa melalui sejarah umat manusia mewujudkan dirinya ke arah sebuah telos (tujuan) tertentu. Ketiga, seperti Hegel, Marx juga merefleksikan kenyataan negatif, yaitu alienasi. [13]

Di samping menganut beberapa asumsi Hegel, Marx juga dengan tajam mengkritik Hegel. Dialektika Hegel itu, menurut Marx, melayang-layang di udara. Hegel sebenarnya sudah cukup kritis melukiskan kenyataan sejarah yang bergerak dalam kontradiksi-kontradiksi antara tesis dan antitesis. Akan tetapi, Hegel lalu menganggap terjadi sintesis yang berarti ‘mendamaikan’ kontradiksi-kontradiksi itu. Bahkan sintesis menjadi final dalam Roh Absolut. Dalam pandangan Marx, sintesis macam itu hanya terjadi dalam pikiran Hegel saja. Dalam kenyataan inderawi yang konkret, konflik-konflik sosial dalam masyarakat industri zaman Marx itu tetap berlangsung. Kalau demikian, sintesis yang bersifat kontemplatif itu berfungsi membenarkan penindasan yang berlangsung dalam masyarakat. Dia sendiri menuduh Hegel, melalui filsafat negaranya, memberi pembenaraan moral untuk negaa Prussia. Karena itu Marx sebenarnya tidak percaya pada sintesis final. Dia mau—dengan kata-kata Marx yang temashyur—‘membuat Hegel berdiri di atas kepalanya’. Dialektika Idea ditransformasikan menjadi dialektika yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat.[14]

Marx setuju dengan Hegel, sebagaimana dalam Phanomenologi des Geistes, dimana Hegel menjelaskan bahwa manusia memahami kenyataan dirinya melalui kerja (bdk. Dialektika tuan dan budak). Marx setuju dengan anggapan itu, sebagaimana termuat dalam essainya Entfremdete Arbeit. Lewat kerja manusia mewujudkan bakat dirinya, mengenal dirinya, sekaligus menyatakan kebebasannya atas tuan atas alam dengan mengubah alam sesuai dengan kehendaknya. Lewat kerja, hakekat manusia ternyatakan sebagai mahkluk sosial, sebab hasil kerjanya yang adalah hasil objektifikasi dirinya dapat diakui dan dimanfaatkan oleh orang lain. Namun dalam masyarakat industri semua ciri kerja itu telah lenyap. Manusia teralienasi.

Marx menemukan bahwa biang dari alienasi terdapat dalam institusi hak milik pribadi, yakni hak milik atas alat-alat produksi. Dengan demikian, Marx menemukan sebuah dimensi baru dari teori alienasi Hegel. Dia memperlihatkan sebuah kenyataan material dari alienasi Hegelian itu. Bukan Roh yang teralienasi, melainkan buruh atau pekerja, dan sejalan dengan Hegel, Marx juga menjelaskan bahwa alienasi tidak disebabkan oleh individu-individu, melainkan oleh proses objektif yang mengatasi individu-individu, yaitu mekanisme hak-hak milik di dalam masyarakat yang menyebabkan munculnya dua kelas yang berkontradiksi: kelas pemilik alat produksi dan kelas pekerja. Kalau Hegel menganggap alienasi ini akan diakhiri dengan jalan memahami dan refleksi, Marx lalu menganggap alienasi akan diakhiri melalui penghapusan institusi hak milik itu, sehingga masyarakat tidak terbagi menjadi kelas-kelas yang saling bertentangan. Ini tidak dilakukan lewat refleksi saja, melainkan lewat praksis. Dan itu adalah revolusi.[15]

Kritik atas Kritik Agama Feurbach

Sebagai ahli waris Hegel yang kritis, Marx sebenarnya sejalan dengan Feurbach: dia ingin mentransformasikan idealisme Hegelian menjadi materialisme. Hanya kata ‘materialisme’ dalam filsafat Marx jangan dipahami sebagai ajaran metafisis tentang materi sebagai kenyataan akhir. Istilah ini lebih berarti bahwa Marx memandang bahwa bukan pikiran, melainkan kerja sosiallah yang merupakan kegiatan dasar manusia.[16]

Marx menerima pengandaian Feurbach dalam Das Wesen des Christentums (Eng:The Essence of Christianity), bahwa kenyataan akhir adalah objek-objek inderawi. Akan tetapi, lalu dia mengajukan kritik-kritiknya. Dalam esainya, Thesen uber Feurbanch (Eng: Theses on Feurbach), kita bisa menemukan bagaimana penilaian Marx mengenai materialisme. Dia menolak berbagai bentuk materialisme sebelum dia, termasuk materialisme Feurbach. Alasannya adalah bahwa materialisme sampai pemikiran Feurbach bersifat kontemplatif dan tidak mendorong kegiatan revolusioner [tesis ke-1].[17] Yang ditolak Marx ini sebenarnya adalah segala macam bentuk materialisme zaman Pencerahan dan pasca-Pencerahan yang menafsirkan dunia secara mekanistis. Semua ajaran filosofis itu baginya hanya merupakan sebuah tafsiran atas kenyataan seja yang tidak menghasilkan perubahan apa-apa, maka disebut kontemplasi. Termasyhurlah ucapan Marx dalam tesis ke-11: para filsuf tidak lebih daripada sekadar menafsirkan dunia dengan berbagai cara, padahal yang terpenting adalah mengubahnya[18]. Dalam rumusan positif, pandangan Marx tentang filsafat adalah bahwa filsafat harus mendorong praksis perubahan sosial, dan tidak bisa terjadi kalau filsafat memakai metode dialektis.

Bagi Feurbach, manusia mengasingkan diri dalam agama. Marx setuju dengan asumsi Feubach ini, namun dia lebih jauh lagi mempersoalkan, mengapa manusia mengalienasikan dirinya dalam agama. Menurut Marx, dalam Thesen uber Feurbach tesis ke-7, pertanyaan ini tidak dipersoalkan Feurbach, karena ‘manusia’ dipahami secara abstrak. Feurbach sendiri menyebutnya ‘Gattungwesen’ (mahkluk kolektif).[19] Kalau manusia dipahami sebagai orang-orang konkret inderawi dalam masyarakat dan zaman tertentu, persoalan itu bisa dijawab. Menurut Marx, ‘kondisi-kondisi material’ di sini adalah proses-proses produksi atau kerja sosial dalam masyarakat.[20]

Keterasingan sebagai tema filsafat sudah muncul pada Rosseau. Masyarakat dengan peradaban buatannya mengasingkan manusia dari hakikatnya yang alamiah. Mengakhiri keterasingan itu merupakan proses emansipasi: manusia membebaskan diri dari masyarakat dan pemerintahan yang busuk itu. Marx menemukan tema keterasingan dalam kritik agama Ludwig Feurbach. Bagi Feurbach, agama hanyalah proyeksi khayalan manusia tentang dirinya sendiri. Dalam agama manusia mengasingkan hakikatnya sendiri.

Filsafat Feurbach mempengaruhi pemikiran Marx secara mendalam. Feurbach dirasakannya membuka matanya mengapa Hegel tidak turun dari dataran murni teoritis: filsafat Hegel sendiri adalah ungkapan suatu keterasingan manusia dari dirinya sendiri. Keterasingan itu menurut Feurbach terungkap dalam agama. Marx menerima interpretasi itu, tetapi menunjukkan bahwa agama merupakan keterasingan sekunder. Keterasingan primer adalah keterasingan manusia individual dari hakikatnya yang sosial sebagaimana terungkap dalam individualisme modern. Tanda keterasingan manusia dari sifatnya yang sosial adalah eksistensi negara sebagai lembaga represif.

Karl Marx menerima kritik ateis Feurbach itu. Tetapi ia mengkritik bahwa Feurbach tidak mempertanyakan mengapa manusia sampai mengasingkan diri ke dalam agama. Menurut Marx, manusia mencari suatu realitas khayalan dalam agama karena keadaan masyarakat tidak mengizinkan bahwa ia merealisasikan hakikatnya secara sungguh-sungguh. Jadi yang harus dikritik bukan agama, melainkan masyarakat: ‘Kritik surga berubah menjadi kritik dunia, kritik agama menjadi kritik hukum, kritik teologi menjadi kritik politik’. Yang perlu diubah adalah masyarakat yang tidak beres.

Kritik Agama Karl Marx[21]

Karl Marx terkenal karena ucapannya bahwa “agama adalah candu rakyat”. Kalimat ini sering diartikan seakan-akan Marx menuduh agama, menyesatkan dan menipu rakyat. Dan memang, dari retorika Marxis kemudian, ucapan Marx itu sering dipakai dalam arti tuduhan, bahwa agama dengan menjanjikan kebahagiaan di alam sesudah kehidupan, membuat orang miskin dan tertindas menerima saja nasib daripada memberontak terhadapnya. Hal itu lebih lagi berlaku bagi Lenin yang menulis bahwa “agama adalah candu bagi rakyat” [Lenin 1956, 7], jadi agama dengan licik diciptakan kelas-kelas atas untuk menenangkan rakyat tertindas.

Akan tetapi bukan itulah yang dimaksud Marx [lih. Magnis-Suseno 1999, bab 4]. Ia tidak membicarakan apakah fungsi agama dalam masyarakat adalah positif atau negatif. Melainkan ucapannya itu menanggapi kritik agama Feurbach. Marx setuju dengan kritik itu. Tetapi menurut Marx, Feurbach berhenti di tengah jalan. Betul, agama adalah dunia khayalan di mana manusia mencari dirinya sendiri. Tetapi, Feurbach tidak bertanya mengapa manusia melarikan diri ke khayalan daripada mewujudkan diri dalam kehidupan nyata. Jawaban yang diberikan Marx adalah: Karena kehidupan nyata, dan itu berati: struktur kekuasaan dalam tidak mengizinkan manusia untuk mewujudkan kekayan hakekatnya. Manusia melarikan diri ke dunia khayalan karena dunia nyata menindasnya.

Jadi agama sebenarnya merupakan protes manusia terhadap keadaan yang terhina dan tertindas. “Agama adalah realisasi hakekat manusia dalam angan-angan karena hakekat manusia tidak mempunyai realitas yang sungguh-sungguh.... Penderitaan religius adalah ekspresi penderitaan nyata dan sekaligus protes terhadap penderitaan nyata. Agama adalah keluhan mahluk terdesak, hati dunia tanpa hati, sebagaimana dia adalah roh keadaan yang tanpa roh. Agama adalah candu rakyat” [MEW 1, 378]. Dalam agama penderitaan manusia terungkap. Tetapi kalau begitu, kritik agama tidak sangat bermanfaat. Yang perlu adalah mengubah keadaan masyarakat yang membuat manusia lari ke dalam agama. Agama adalah ilusi manusia tentang keadannya. “Tuntutan (kritik agama) untuk melepaskan ilusi tentang keadaannya adalah tuntutan untuk melepaskan keadaan yang membutuhkan ilusi” [MEW 1, 379]. Maka, kritik tidak boleh berhenti pada agama, melainkan harus diarahkan pada keadaan sosial-politik yang mendorong manusia ke dalam agama. “Perjuangan melawan agama secara tidak langsung adalah perjuangan melawan dunia yang bau harumnya adalah agama [MEW 1, 378]. Marx menarik kesimpulan: “Kritik surga berubah menjadi kritik dunia, kritik agama menjadi kritik hukum, kritik teologi menjadi kritik politik” [MEW 1, 379]. Yang diperlukan bukan kritik agama, melainkan revolusi! Agama menurut Marx akan menghilang dengan sendirinya, apabila manusia dapat membangun dunia yang memungkinkan manusia untuk mengembangkan hakekatnya secara nyata dan positif.

Penutup

Kritik agama Marx merupakan tantangan bagi agama-agama. Barangkali bukan secara sempit-flosofis. Pertimbangan-pertimbangan yang diajukan terhadap kritik agama Feurbach semua juga berlaku bagi kritik agama Marx. Akan tetapi yang khas bagi pengertian Marx adalah bahwa baginya agama menunjuk pada ketidakberesan keadaan dalam masyarakat. Di sini letak tantangan kritik Marx. Bahkan kritik Marxisme vulgar bahwa agama melumpuhkan semangat lawan kelas-kelas tetindas dan karena itu menguntungkan kelas-kelas atas perlu ditanggapi dengan sungguh-sungguh. Bukankah dalam kenyataan sejarah agama seri sekali bersekutu dengan mereka yang bekuasa dan bermodal dan membiarkan ‘rakyat’ hidup dalam keadaan miskin dan tak berdaya? Bukankah tidak jarang agama menjadi sekutu para penghisap dan penindas? Agama-agama ditantang untuk menunjukkan bahwa mereka bisa juga menjadi kekuatan pembebas dan pemberdaya.

Kritik Karl Marx sendiri menimbulkan dua pertanyaan: benarkah bahwa agama pada hakekatnya merupakan pelarian? Dan benarkah bahwa manusia agar ia dapat mengembangkan diri sebagai mahkluk yang sosial dan politik harus berhenti tunduk terhadap Allah? Jawaban atas dua pertanyaan ini tidak dapat diberikan hanya dalam teori. Bahwa dua pengandaian Marx ini tidak benar, haus kelihatan dari praxis agama. Agama bukan pelarian apabila agama justru memberdayakan para penganutnya untuk membangun masyarakat yang solider dengan mereka yang mskin dan lemah, masyarakat yang positif, damai saling menghormati, serta melawan ketidakadilan dan penindasan mereka yang tidak berdaya. Dan profil para agamawan harus memperlihatkan bahwa mencari Allah bukan hanya tidak mengasingka manusia dari dirinya sendiri, melainkan justru akan mengembangkan identitas dan hakekatnya yang positif. Menjawab panggilan Sang Pencipta memang tidak mungkin mengasingkan ciptaan dari hakekatnya, tetapi hal itu hanya akan meyakinkan apabila kaum agamawan adalah manusia-manusia yang terbuka, positif, toleran, yang memperhatikan saudara dan solider, yang mencintai keadilan dan melawan ketidakadilan tanpa menjadi keras di dalam hati.


[1] Kenyataa bahwa ibu Marx baru menyusul pindah agama delapan tahun kemudian mungkin menunjukkan ada keterpaksaan. Dan, kenyataan bahwa begitu mudahnya ayah Karl berpindah agama mugngkin menjadi alasan mengapa Karl tidak pernah meminati hal agama. Lih. Magnis-Suseno, Franz, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999, hal. 46.

[2] Situasi politik Prussia waktu itu semakin reaksioner: undang-undang dasar yang, sesudah perang-perang Napoleon, memberikan lebih banyak kebebasan kepada rakyat, dihapus lagi, pers ditempatkan di bawah sensor, dan guru-guru bedar di Universitas diawasi dengan ketat dan kalau terlalu liberal, ditahan. Ibid.

[3] Hegel menjadi profesor di Berlin dari tahun 1818 sampai wafatnya pada tahun 1831. Ia paling termasyhur karena filsafat politik yang diajarkannya, yang menempatkan rasionalitas dan kebebasan sebagai nilai tertinggi. Ibid.

[4] Kaum Hegelian Muda juga berpendapat bahwa filsafat Hegel sebenarnya bersifat ateistik. Berdasarkan interpretasi radikal ini kaum Hegelian Muda menjadi lawan ‘kiri’ atas interpretasi ‘resmi’ kaum ‘Hegelian Kanan’ yang justru menganggap Hegel sebagai seorang teolog Protestan dan pendukung negara Prussia. Karena itu mereka juga disebut kaum ‘Hegelian Kiri’. Ibid. hal. 47.

[5] Hardiman, F.Budi, Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004, hal. 232.

[6] Dalam judul bahasa Jermannya: Die Differenz der Demokritischen und Epikureischen Naturphilosophie.. Lih. Hardiman, Ibid.

[7] Buku ini baru dicetak untuk pertama kalinya pada tahun 1928 di Moskow. Di dalamnya Marx menganalisis segi-segi utama keterasingan manusia dalam pekerjaan. Dalam refleksi-refleksi itu tampak apa yang sering disebut sebagai ‘humanisme Marx’, suatu gambaran manusia sebagai mahkluk yang seharusnya bebas dan universal, individual dan sosial serta alami. Naskah-naskah ini adalah tulisan Marx yang paling filosofis di mana nilai-nilai etis yang mendasari seluruh karyanya—tanpa diakui secara terbuka—tampak dengan jelas. Naskah-naskah inilah yang mengubah gamabran Marxisme tradisional bahwa Marx pertama-tama harus dilihat sebagai ekonom dan sosiolog yang ‘bebas nilai’, yang tidak mempunyai keyakinan-keyakinan filosofis dan etis. Sebaliknya, dalam naskah-naskah Paris itu Marx tampil sebagai pemikir yang dengan penuh semangat hendak mengembalikan manusia dari keterasingannya ke dalam keutuhannya. Op.cit. hal. 48.

[8] Isinya merupakan sindiran tentang kakak-beradik Bauer bekas kawan-kawan Marx dalam Klub Doktor di Berlin. Di dalamnya Marx menyatakan diri berpisah dari teman-teman Hegelian Muda dulu yang dinilainya ‘idealistik’ atau ‘religius’ karena mereka mencari akar keterasingan manusia dalam cara berpikir, bukan dalam susunan sistem produksi yang keliru. Ibid. 50.

[9] Buku ini tidak menemukan penerbit dan karena itu baru dicetak dalam abad ini. Buku ini penting karena melanjutkan apa yang sudah mulai digariskan dalam The Holy Family: peralihan pemikiran Marx ke posisinya yang definitif. Dalam buku ini Marx merusmuskan perbedaannya dengan Feurbach (yang tetap dikaguminya) serta menyerang Max Stirner, seorang anarkis dan individualis ekstrem. Dalam The German Ideology Marx meninggalkan gaya bicara humanistik. Ia menegaskan bahwa sosialisme, penghapusan hak milik pribadi, bukan sekadar tuntutan etis, melainkan keniscayaan objektif. Marx mengklaim bahwa ia menemukan hukum yang mengatur perkembangan masyarakat dan sejarah, dan hukum itu adalah prioritas bidang ekonomi. Karena itu, Marx menyebut anggapannya ‘pandangan sejarah yang materialistik’. Mulai saat itu Marx menganggap dirinya sebagai penemu ‘sosialisme ilmiah’, artinya sosialisme yang tidak berdasarkan harapan dan tuntutan belaka, melainkan berdasarkan analisis ilmiah terhadap hukum perkembangan masyarakat. Dalam buku ini Marx merumuskan premis dasar bahwa bidang ekonomi menentukan bidang politik dan pemikiran manusia, bahwa bidang ekonomi ditentukan oleh pertentangan antara kelas-kelas pekerja dan kelas-kelas pemilik, bahwa pertentangan itu dipertajam oleh kemajuan tekhnik produksi, dan bahwa pertentangan itu akhirnya meledak dalam sebuah revolusi yang mengubah struktur kenegaraan dan gaya manusia berpikir. Ia menyatakan bahwa kapitalisme pun akan berakhir dalam sebuah revolusi, tetapi revolusi itu, berbeda dari semua revolusi sebelumnya, akan menghapus perpecahan masyarakat ke dalam kelas-kelas yang saling bertentangan, dan dengan demikian menghapus hak milik pribadi dan menghasilkan masyarakat yang sosialis. Buku The German Ideology memuat rumusan pertama ‘Materialisme Historis’, pandangan inti Marxisme. Ibid. hal. 50-52.

[10] Marx merasa sangat sulit untuk melaksanakan programnnya itu. Pada tahun 1938 di Moskow diterbitkan sebuah buku setebal 1000 halaman dengan judul Grundrisse (Foundations of the Critique of Political Economy) yang sebelumnya tidak diketahui ada. Grundrisse kiranya ditulis oleh Marx sekitar tahun 1958 dan cukup menarik karena memuat pandangan-pandangan, misalnya tentang otomatisasi, yang tidak sesuai dengan teori nilai lebih Marx sendiri, yang kemudian tidak muncul lagi. Pada tahun 1859 terbitlah buku A Contribution to the Critique of Polotical Economics yang sekarang terutama dibaca karena prakatanya yang memuat rumusan paling ringkas dan jelas tentang pandangan materialis sejarah. Ibid. hal. 53.

[11] Sebagaimana dikutip oleh Magni-Suseno, Ibid. hal. 8.

[12] Disarikan dari Magnis-Suseno, Ibid. hal. 8-10.

[13] Hardiman, F.Budi, Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004, hal. 235-239.

[14] Ibid. hal. 237.

[15] Ibid. hal. 238-239.

[16] Ibid hal. 237.

[17] “The main defect of all hitherto-existing materialism—that of Feurbach included—is that the Object [der Gegenstand], actuality, sensuousness, are conceived only in the form of the object [Objekts], or of contemplation [Anschauung], but not as human sensuous activity, practice [Praxis], not subjectively.” Dikutip dari Theses on Feurbach; Marx, Karl,Opium of The People: Four Text on Religion, terj. Martin Milligan, London: Lawrence & Wishart, 2003, hal. 48.

[18] Philosophers have hitherto only interpreted the world in various ways; the point is to change it” [Die Philosophen haben die Welt nur verschieden interpretiert, es kommt darauf an, sie zu verandern]. Ibid. hal. 50.

[19] Theses on Feurbach-no.7: “Feurbach consequently does not see that the religious sentiment is itself a social product, and that the abstract individual that the analyses belongs in reality to a particular social form”. Ibid.

[20]Op.cit, Hardiman, hal. 236.

[21] Magnis-Suseno. Franz, Menalar Tuhan, Yogyakarta: Kanisius, 2006, hal. 72-73.

1 komentar:

  1. Waktu saya baru mulai terjun ke dalam dunia para filsuf, saya kerap hanya dengarkan Marx. Namun, keadaan sedikit berubah setelah saya cukup akrab dengan Marx, juga pemikiran briliannya. Namun, saya tidak lalu berhenti pada mengagumi Marx. Hemat saya, Marx sudah terlampau renta untuk dunia sekarang. Karena itu, pemikirannya pun banyak menyisakan celah untuk dikritisi. Saya pikir, inilah saat yang tepat Marx mendengarkan saya.
    Ulasan be_beC tentang Marx dan pemikirannya sungguh menarik. Semakin menarik ketika be_beC coba memasukkan pemikiran Magnis Suseno. Namun, saya pikir akan sangat menarik kalau be_beC sendiri berbicara untuk Marx. Inilah saat yang tepat bagi be_beC untuk berbicara. Jadikan Marx pendengar setiamu, saat ini!!!

    Salam
    Thomlimah

    BalasHapus